Menyaksikan Kematian Jurnalisme
Kaos sebagai sarana kampanye antihoaks atau berita bohong dikenakan jajaran pejabat Polda Metro Jaya Jakarta,beberapa waktu lalu. (KOMPAS/Heru Sri Kumoro) Suatu ketika berita dibaca baris demi baris dari meja makan hingga meja dapur. Surat kabar bertengger di bawah naungan para pebisnis di kota-kota yang ramai, terkadang lebih dari satu surat kabar. Kini, ketika ruang redaksi dan majalah tutup hampir setiap hari, hal ini menimbulkan pertanyaan. Apakah menyaksikan kematian jurnalisme? Mulai dari kios koran di pojokan, hingga anak-anak yang bersepeda sambil melemparkan koran seperti idola bisbol favorit mereka, berita disampaikan dengan cara yang dapat dibaca oleh siapa pun. Kata-kata para jurnalis yang menghabiskan waktu bertahun-tahun mengerjakan karya mereka memenuhi setiap halaman. Tidak peduli apakah Anda seorang jurnalis politik atau jurnalis olahraga, Anda berada di sana untuk mengatakan kebenaran dalam cerita Anda. Saat ini orang-orang mendapatkan berita dari tokoh-tokoh media so...